Mengenal Tetrodotoksin, Racun pada Ikan Buntal

Jumat, 20 Agustus 2021

Administrator

Artikel

Dibaca: 47 kali

Ikan buntal merupakan ikan yang termasuk dalam famili Tetraodontidae. Ikan ini dapat ditemukan di perairan air asin maupun air tawar seperti Samudera Pasifik, Laut Merah, Sungai Mekong, hingga Sungai Amazon. Ikan buntal juga dapat ditemui di perairan Indonesia. Ciri-ciri ikan ini adalah memiliki tubuh yang panjang dan meruncing, kepala bundar, bibir menonjol dan perut besar. Ikan ini tidak mempunyai sisik, namun memiliki duri. Ikan ini juga mempunyai kemampuan mengubah arah saat berenang, bahkan dapat berenang mundur. Ikan buntal dikenal juga dengan nama lain blowfish, puffer fish, baloonfish, globefish, atau toadfish.

Dilansir dari National Geographic, ikan buntal menjadi salah satu ikan yang cukup banyak diincar oleh predator karena gerakannya yang tergolong lambat. Namun, tahukah kamu cara ikan buntal menghindar dari predator? Saat predator mendekat, ikan buntal langsung menggembungkan badannya. Tidak hanya itu, ikan buntal memiliki kandungan racun di dalam tubuhnya yang digunakan untuk menghindari predator. Bagi predator yang berhasil menangkap ikan buntal, mereka tidak bertahan hidup lama karena adanya kandungan racun dalam tubuh ikan tersebut. Racun ini dikenal sebagai tetrodotoksin. Tidak hanya bagi predator ikan buntal, kandungan racun tetrodotoksin juga berbahaya bagi manusia yang mengonsumsi ikan buntal. Menurut National Geographic, kandungan tetrodotoksin lebih mematikan dibandingkan racun sianida. Satu ikan buntal yang memiliki racun dapat membunuh 30 orang dewasa.
Racun tetrodotoksin bekerja pada tubuh manusia dengan menyerang saraf dan menyebabkan saraf tidak bergerak atau mengalami kerusakan. Bahayanya, racun tetrodotoksin dapat memengaruhi bagian otot yang mengendalikan pernapasan sehingga pengidap akan kesulitan bernapas dan jika tidak segera diatasi kondisi ini dapat menyebabkan kematian. Sampai saat ini, belum ada obat penawar untuk racun ikan buntal. Sebaiknya jika kamu mengalami gangguan pernapasan setelah mengonsumsi ikan buntal atau jenis ikan lainnya, segera kunjungi rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat. Pengobatan yang dapat diberikan adalah bantuan alat pernapasan hingga tubuh dapat mengeluarkan racun yang berada dalam tubuh secara alami.
Tetrodotoksin merupakan racun yang sangat kuat sehingga tidak mengherankan jika hewan ini disebut sebagai hewan paling beracun kedua di dunia. Racun tersebut biasanya ditemukan di organ hati dan organ gonad dari ikan buntal. Ikan buntal tidak memproduksi racun sendiri. Hal tersebut disebabkan karena faktor lingkungan dan makanan yang menjadi konsumsi dari ikan.
Efek tetrodotoksin dari ikan buntal bisa dirasakan penderitanya dalam kurun waktu 10 hingga 45 menit atau tiga hingga enam jam usai terpapar. Paparan tetrodotoksin juga bisa menyebabkan kematian dalam 20 menit hingga 24 jam usai terpapar. Efek tetrodotoksin pada tubuh manusia terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama biasanya terjadi dalam waktu kurang dari delapan jam. Sementara itu, tahap kedua biasanya terjadi dalam hitungan hari. Tahapan awal efek tetrodotoksin Pada tahap pertama, paparan tetrodotoksin dapat menyebabkan mati rasa dan munculnya sensasi kesemutan atau tertusuk pada bibir dan lidah. Sensasi tersemut akan menjalar di bagian wajah dan berkembang menjadi sakit kepala, sensasi ringan atau mengambang. Penderita juga mengalami pengeluaran keringat yang banyak, salivasi atau keluarnya air liur, mual, dan muntah. Bahkan, paparan tetrodotoksin bisa menyebabkan diare, sakit perut, kesulitan bergerak atau disfungsi motorik, tubuh terasa lemas dan pegal-pegal serta kesulitan bicara. Tahap kedua efek tetrodotoksin Jika tidak segera ditangani, efek tetrodotoksin bisa menyebabkan penderita mengalami kelumpuhan yang menjalar di seluruh tubuh hingga otot-otot pernapasan. Penderita juga bisa mengalami kesulitan bernafas atau sesak nafas yang dalam istilah medis disebut dengan dispnea. Tetrodotoksin juga bisa menyebabkan disritmia atau aritmia, tekanan darah abnormal, melebarnya pupil atau midriasi. Bahkan, paparan tetrodotoksin bisa membuat kita mengalami koma, kejang, henti pernapasan, hingga kematian.
Orang yang terpapar tetrodotoksin harus segera mendapatkan perawatan medis. Selain itu, cegah orang lain untuk mengonsumsi sumber paparan tetradoksin demi menghindari lebih banyak korban. Pertolongan pertama bagi orang yang terpapar tetrodotoksin masih dalam kondisi sadar, segera lakukan emesis atau memuntahkan isi perut. Namun jika orang tersebut dalam kondisi tak sadarkan diri, segera beri oksigen atau napas bantuan.
Meskipun beracun, ikan buntal termasuk salah satu hidangan lezat di negara Jepang dan negara lain. Hidangan yang terbuat dari ikan ini disebut Fugu. Tetapi, hidangan ini hanya boleh dibuat oleh koki-koki terlatih yang memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun dan bersertifikat. Hal tersebut karena mereka harus mengeluarkan organ beracun dan memasak ikan ini dengan benar agar tidak meracuni konsumen. Para chef professional berlisensi hanya menggunakan torafugu atau tiger puffer. Jenis ini memiliki kandungan racun yang lebih sedikit dibanding jenis ikan buntal lainnya. Langkah yang dilakukan dalam mengolah ikan buntal adalah Pertama, buang kulitnya. Mereka mengiris kulir bagian mulut dan menarik kulitnya seperti menguliti kaki kambing. Kemudian mencuci hingga tak ada lagi lendir atau yang mereka sebut dengan jeli. Setelah itu lumuri dengan garam. Untuk menghilangkan duri, mereka menahan kulit ikan buntal, dan memotong duri menggunakan pisau tajam, dalam sekali gerakan. Mungkin, kalau dibayangkan, ini seperti kamu mempreteli biji jagung. Selanjutnya buang mata ikan buntal. Kemudian kamu memasuki bagian yang paling penting dan haruslah tepat; yaitu proses membelah. Hati-hati, kamu harus tahu letak hati dan ovarium. Karena kedua organ tersebut paling banyak kandungan racunnya. Kalau salah langkah dan kamu bisa memecahkan kedua organ tersebut, racun akan keluar dan menyebar ke seluruh bagian ikan.
Setelah organ dalam yang sangat beracun sudah dibuang anda dapat mengiris daging ikan buntal. Nah, bagian ini ternyata juga memerlukan kehati-hatian. Pasalnya, tak semua orang juga bisa mengiris daging ikan untuk sashimi. Sang koki akan membelah kepala ikan buntal menjadi dua atau tiga bagian. Bagian ini hanya bisa dimakan setelah direbus saja. Tapi ingat, jangan mencobanya di rumah ya! Anda harus tetap punya lisensi resmi sebelum boleh menyajikan fugu. Per porsinya, olahan set ikan buntal mencapai harga kisaran 30.000 Yen Jepang atau setara Rp. 3,9 juta (asumsi kurs Rp. 135 per Yen Jepang). Namun risiko yang besar terhadap kesehatan membuat beberapa negara telah melarang konsumsi ikan buntal ini seperti di Filipina.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas

Pencarian

Berita Gunungkidul





semua agenda

Agenda

semua download

Download

Statistik

165693

Pengunjung Hari ini : 46
Total pengunjung : 165693
Hits hari ini : 157
Total Hits : 537262
Pengunjung Online : 2

Jajak Pendapat

Bagaimanakah tampilan website DKP?
Sangat Puas
Puas
Cukup Puas
Kurang Puas

Lihat